Saya hampir selalu menulis console.log() dengan niat baik. Bukan untuk pamer, bukan untuk solusi permanen. Hanya untuk memastikan satu hal kecil: apakah data ini benar? Apakah fungsi ini terpanggil? Apakah kode ini benar-benar sampai ke sini?
Dan hampir selalu saya berpikir hal yang sama:
nanti dihapus.
Masalahnya, “nanti” itu jarang sekali datang.
Di tengah debugging, console.log() adalah teman paling setia. Ia cepat, tidak ribet, dan langsung memberi jawaban. Tidak perlu setup, tidak perlu tooling tambahan. Ketik satu baris, refresh, dan kita tahu apa yang terjadi. Sangat menggoda.
Ketika masalah selesai, fokus kita langsung pindah. Ada task lain menunggu, ada fitur berikutnya yang harus dikerjakan. console.log() tadi masih di sana, tapi tidak terasa mendesak. Lagipula, “tidak berbahaya”, pikir kita.
Sampai suatu hari, kita membuka kembali kode lama itu.
Log masih ada. Bahkan bukan satu. Ada banyak. Sebagian sudah tidak relevan, sebagian lagi membingungkan. Kita membaca output di console dan bertanya-tanya: ini log dari mana? Kenapa ada di sini? Masih dipakai atau tidak?
Yang lebih parah, log itu ikut naik ke environment lain. Ke staging. Ke production. Dan tiba-tiba console penuh dengan noise yang tidak ada hubungannya dengan masalah yang sedang dicari.
Saya pernah berada di situasi di mana debugging jadi lebih sulit justru karena terlalu banyak log. Alih-alih membantu, console.log() berubah menjadi gangguan. Ia menutupi sinyal penting dengan informasi yang sudah tidak relevan.
Ironisnya, masalah ini jarang terasa serius. Tidak ada error. Aplikasi tetap berjalan. Tidak ada yang “rusak”. Tapi pelan-pelan, kualitas kode menurun. Bukan karena logic yang salah, tapi karena kebiasaan kecil yang tidak pernah dibereskan.
Yang membuatnya tricky adalah sifat sementara yang tidak pernah benar-benar sementara. console.log() ditulis dengan niat singkat, tapi hidupnya sering kali panjang. Terutama jika tidak ada kebiasaan atau aturan yang memaksa kita untuk membersihkannya.
Sejak menyadari ini, saya mulai lebih sadar setiap kali mengetik console.log(). Bukan untuk melarang diri sendiri menggunakannya, tapi untuk memberi konteks. Jika log itu hanya untuk debugging cepat, saya mencoba memastikan ia benar-benar hilang sebelum kode dianggap selesai.
Kadang caranya sederhana. Sebelum commit, saya luangkan waktu sebentar untuk melihat perubahan yang akan dikirim. Jika masih ada console.log() yang tidak jelas tujuannya, itu jadi tanda bahwa ada pekerjaan kecil yang belum tuntas.
Debugging memang butuh alat yang cepat. Dan console.log() akan selalu punya tempat. Tapi seperti catatan tempel di meja kerja, ia seharusnya dibuang setelah tugasnya selesai. Kalau tidak, meja kita akan penuh, dan kita sendiri yang kebingungan mencarinya.
Masalahnya kecil. Tidak akan menjatuhkan aplikasi. Tapi jika dibiarkan, ia perlahan menggerogoti keterbacaan dan ketenangan kita saat membaca kode sendiri.
Dan jujur saja, sering kali kita lupa bukan karena tidak peduli, tapi karena merasa itu bukan masalah besar. Padahal, seperti banyak hal lain dalam dunia pemrograman, kualitas sering kali ditentukan oleh hal-hal kecil yang kita pilih untuk tidak menunda.

Leave a comment